Komunitas Relawan Bobby Nasution Yakin Memilih Wakil Wali Kota Secara Tepat
Komunitas Relawan Bobby Nasution Yakin Memilih Wakil Wali Kota Secara Tepat

Kolaborasi Medan Berkah –  Komunitas Relawan Bobby Nasution menganggap perlunya sang calon Wali Kota Medan, Bobby Nasution untuk memiliki wakil wali kota yang tepat. Hal ini dianggap perlu karena Bobby sudah memiliki rekam jejak yang sangat bagus.

Bobby tidak hanya sarat prestasi di bidang akademik, tetapi juga sudah memiliki banyak pengalaman sebagai tokoh masyarakat dan juga sebagai pengusaha. Karena itulah, semua warga di Kota Medan sangat mendukungnya sebagai ‘The Next Mayor’ atau wali kota berikutnya. Pun, warga Medan mendambakan wakil wali kota yang sama-sama memiliki karisma.

Berbagai pendapat muncul. Tidak hanya di media masa dan elektronik serta online, tetapi juga media sosial. Mereka berharap Bobby dapat memilih wakilnya secara selektif, karena reputasinya akan dipertaruhkan jika ia salah pilih wakil wali kota.

Baca Juga: Komunitas Relawan Bobby Nasution Giatkan Kolaborasi Pola Pikir Kaum Millennial

Ketua Harian Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid yaitu Tengku Ma’moon Al Rasjid memberikan pendapatnya terkait akan hal ini. Ia mengatakan bahwa sosok Bobby harus memiliki wakil wali kota dengan reputasi yang juga baik. Reputasi juga harus diimbangi dengan kemampuan, baik dalam politik dan juga birokrasi.menurut Al Rasjid, Kota Medan perlu sosok wali kota dan wakilnya yang dapat membawa Medan lebih baik di lima tahun mendatang.

Al Rasjid berujar bahwa Bobby merupakan sosok dengan karisma yang dibutuhkan oleh warga Kota Medan. Karena itulah, sosok berkarisma juga perlu dimiliki oleh calon wakil wali kotanya nanti. Tidak hanya itu, calon wali kota juga perlu pengalaman dalam bidang politik.

Pemimpin muda seperti Bobby Nasution sangat dibutuhkan warga Kota Medan. Bobby tidak hanya bersih korupsi dengan latar belakang keluarga yang juga bersih, tetapi pekerja keras dan berenergi, serta memiliki kinerja cepat. Al Rasjid mengatakan bahwa pendamping Bobby memang harus berpengalaman, namun juga bukan berarti memiliki umur yang jauh di atas Bobby. Wakil Wali Kota Medan berikutnya harus dapat mengimbangi kinerja Wakil Ketua BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.

Ketika bertemu wartawan 1 Juli 2020 lalu, Al Rasjid berujar bahwa politik adalah kehidupan dinamis, dengan pelaku politik yang juga harus dinamis dan inovatif. “Selain berpengalaman dan memiliki energi besar, calon pendamping Bobby juga harus menyejukkan dan memiliki citra positif,” jelasnya. Ia mengatakan bahwa tokoh-tokoh mudah harus diberi kesempatan memimpin Kota Medan. “Yang muda ini (Bobby Nasution), yang masih ringan (beban) pikirannya, pasti lebih inovatif,” paparnya.

Bobby, menurut Ma’moon Al Rasjid, akan pas bersanding dengan wakil wali kota enerjik namun juga sarat pengalaman, terutama di bidang politik terapan. “Sehingga akhirnya bisa dikolaborasikan. Walikota dan wakil walikotanya sama-sama memajukan Kota Medan ini,” katanya.

Ia mengatakan hal ini karena nantinya kolaborasi Bobby dengan orang yang lebih berpengalaman dapat memadukan politik modern dan tradisional. Ia melanjutkan bahwa kolaborasi tersebut dapat menjadi perpaduan pas, dari sosok modern dan juga tradisional. “Warnanya juga lebih baik. Potensinya tinggi kalau Bobby melakukan kolaborasi seperti ini. Saya dukung sekali, saya mau lihat orang muda maju. Apalagi Bobby punya akses bagus sebagai menantu Presiden,” lanjutnya.

Baca Juga: Bobby Nasution: Kolaborasi Medan Berkah Sebagai Kota Saudagar Pasti Terwujud

Ia juga mengutarakan bahwa korupsi sama dengan wabah, seperti yang sudah dilakukan oleh tiga eks Wali Kota Medan sebelumnya. “Hari ini tidak, besok bisa kena. Unpredictable korupsi itu. Tapi umumnya anak-anak muda tidak berpikir korupsi. Anak muda itu tidak butuh uang. Anak muda butuh achievement (pencapaian, red). Anak muda lebih butuh tepuk tangan daripada uang,” paparnya.

Sedangkan Faisal Riza sedikit berbeda pendapat. Ia menyarankan supaya Bobby nantinya memilih sosok representatif dengan kadar loyalitas tinggi. “Tidak cenderung melebihi wewenang,” ucap pengamat politik UINSU ini. “Dan terakhir, faktor elektabilitas mungkin bisa juga dipertimbangkan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here