Membersihkan Diri dengan Tradisi Mandi Balimo-Limo
Membersihkan Diri dengan Tradisi Mandi Balimo-Limo

Kolaborasi Medan Berkah – Tradisi mandi balimo-limo sudah dilakukan oleh masyarakat Medan sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Kegiatan ini merupakan mandi bersama di sungai berair jernih rutin di lakukan menjelang bulan Suci Ramadhan. Masyarakat membersihkan diri, menggunakan perasan air jeruk limao atau jeruk purut di campur dengan rempah-rempah.

Setidaknya harus ada lima orang untu bisa menjalankan tradisi ini. Tidak ada tindakan khusus yang perlu di lakukan. Karena pada dasarnya tradisi ini memang harus dalam jumlah besar orang.

Tradisi Mandi Balimo-Limo Bukan Kewajiban

Tradisi mandi balimo-limo bukan kewajiban dari agama tertentu. Kegiatan ini murni aktivitas yang sudah berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sebenarnya aksi mandi bersama di aliran air seperti sungai tidak hanya di temui pada kehidupan masyarakat kota Medan.

Membersihkan Diri dengan Tradisi Mandi Balimo-Limo
Membersihkan Diri dengan Tradisi Mandi Balimo-Limo

Jadi masyarakat berhak memilih akan melaksanakan atau tidak, tradisi tersebut hanyalah bentuk melestarikan kebudayaan. Meski demikian aktivitas ini menjadi warna tersendiri di dalam kehidupan masyarakat nusantara.

Baca juga : Tradisi Makanan Khas Ramadhan di Kota Medan

Air sungai untuk mandi haruslah jernih dan mengalir. Nantinya ribuan orang bisa datang di sepanjang sungai hanya untuk mandi balimo-limo. Ada keseruan tersendiri saat melakukan tradisi ini. Anda bisa mencoba bersama keluarga dan sanak saudara.Tidak hanya warga lokal yang tertarik mencoba, banyak juga wisatawan yang turut bergabung lantaran merasa penasaran.

Penyebutan Berbeda Dari Daerah Lain

Hampir seluruh daerah di nusantara juga melakukan kegiatan serupa. Hanya saja penyebutannya berbeda, mengingat setiap daerah memiliki bahasa daerahnya sendiri. Seperti contohnya masyarakat di Sumatera Barat, mereka menyebut mandi bersama dengan tradisi Balimau.

Baca juga : Ratusan Masyarakat Senam Sehat Kolaborasi Medan Berkah

Sementara masyarakat di Kabupaten Mandailing menyebut mandi bersama di sungai dengan marpangir. Aktivitas membersihkan diri bersama ini, akan di lakukan sehari sebelum bulan Ramadhan. Masyarakat akan pergi ke sungai Sibolga, Sarudik, Sibuluan, Pinang Sori, atau Parasariran.

Kurangnya Bukti Konkret Tentang Budaya Marpangir

Belum ada bukti konkret yang menunjukkan mengapa tradisi mandi bersama disebut dengan balimo-limo. Termasuk waktu tepatnya tradisi ini pertama kali di lakukan, juga tidak ada sumber informasi yang bisa membuktikan. Hanya saja yang pasti masyarakat tidak pernah absen melakukan tradisi nenek moyang ini.

Jika boleh mengartikan dalam bahasa setempat balimo-limo memiliki artian lima. Karena umumnya masyarakat juga memakai perasan jeruk limau. Dapat disimpulkan bila mandi balimo-limo adalah kegiatan mandi bersama di sungai yang dilakukan setidaknya oleh lima orang menggunakan perasan jeruk limau.

Mengapa menggunakan perasan air jeruk? Secara fakta kembali lagi tidak ada bukti konkret. Hanya saja air perasan limau yang dicampau bahan lain seperti pandan, serai, nilam dan mayang pinang. Airnya sangat harum dan bisa dipakai membersihkan diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here