Komunitas Relawan Bobby Nasution  
Komunitas Relawan Bobby Nasution  

Kolaborasi Medan Berkah  – Komunitas Relawan Bobby Nasution  sudah sering turun ke lapangan dan mendengar harapan dari masyarakat Kota Medan. Salah satu harapan tersebut adalah munculnya pemimpin yang serius untuk menangani  banjir di Medan yang seolah tak pernah bosan melanda, terutama saat curah hujan sedang tinggi.

Beberapa kawasan di Medan yang selalu menjadi langganan banjir, salah satunya adalah Medan Denai. Kawasan raya Menteng mengalami banjir cukup tinggi 12 Agustus 2020 yang lalu.

Masyarakat memang sudah terbiasa dengan banjir, tetapi mereka pun berharap hal ini dapat teratasi karena sangat mengganggu aktivitas mereka. Banjir di Menteng ini terjadi pada dini hari setelah semalaman diguyur hujan.  Banjir cukup parah karen genangan air sampai seukuran pinggang orang dewasa.

Baca Juga: Bobby Nasution: Kolaborasi Medan Berkah Sebagai Kota Saudagar Pasti Terwujud

Di saat yang hampir sama, Brayan di Medan Barat juga dilanda banjir. Keluhan salah satu warga, yaitu Milla Saragih terungkap kepada awak media. Ia berujar bahwa ia dan keluarganya sudah bosan dengan banjir. Meski ia dan keluarganya sudah siap jika banjir datang, ia sangat berharap nantinya Bobby yang mendapatkan amanah masyarakat untuk menjadi wali kota. Ia yakin Bobby punya kapabilitas dalam menangani masalah ini.

“Sejak jalan raya ditinggikan harus siap-siap banjir. Karena gang kami lebih rendah dari jalan raya. Jadi kalau hujannya lebih dari satu jam, udah pasti banjir la,” keluhnya. Keluhannya ini tentu mewakili banyak warga Medan.

Kota Medan sendiri selalu menjadi langganan banjir dengan satu alasan.  Hal ini diungkapkan oleh Ivan Indrawan. Akademisi Teknik Sipil USU (Universitas Sumatera Utara) ini mengatakan bahwa kasus banjir di Medan merupakan kasuistik, yang berarti penyebab banjir di satu wilayah berbeda dengan kawasan lainnya.

“Ada yang sistem drainase sudah diperbaiki. Tapi drainase induknya (sungai), yang belum di normalisasi. Ada juga kasus beberapa wilayah di Medan memang cekungan-cekungan, sehingga untuk mengalirkan drainase perlu hal-hal khusus,” jelasnya.

Ia mengamati dimana jalur baru harus dibuat. Jalur tersebut dapat memudahkan guyuran air dari hujan lebat dari dataran tinggi ke rendah. Masalah utamanya adalah pada daerah-daerah yang memiliki cekungan. Tetapi, tidak mudah membuat jalur baru, karena perlu pembebasan lahan. “Itu terkadang yang sulit dilakukan pemerintah,” katanya.

Ia mengatakan dimana ada beberapa jalan utama yang ditinggikan, untuk upaya penanggulangan banjir.  Namun demikian, daerah tersebut harus memiliki penanganan khusus dalam membentuk drainase. Inilah alasan utama banjir tidak kunjung selesai, disebabkan terbentuknya cekungan baru terbentuk. “Jadi memang kompleks masalahnya saat ini. Masing-masing wilayah berbeda-beda kasusnya,” katanya.

Saat ini pihak Pemko Medan telah membuat drainase tertutup. Ivan berkata bahwa upaya ini cukup bagus. Tetapi, ia berharap pemeliharaan rutin karena jika tidak, hasil pencegahan banjir pasti tidak maksimal. Ia pun mengatakan drainase yang terbaik seharusnya drainase terbuka karena endapan dapat segera dibersihkan. Secara otomatis, drainase tertutup dapat mengakibatkan penumpukan endapan jika tidak langsung dibersihkan.

Baca Juga: Komunitas Relawan Bobby Nasution Laksanakan Penyembelihan Hewan Kurban

“Masalahnya kalau menutup, harus sering-sering dilihat dan dibersihkan. Karena sampah, endapan kalau tidak dibersihkan akan menimbulkan masalah baru. Ini kita tidak tahu, dibersihkan rutin atau tidak drainase tersebut,” paparnya.

#KolaborasiMedanBerkah menjadi solusi utama dari Bobby Nasution dalam menanggulangi banjir. Kerjasama masyarakat tentu diharapkan dalam hal ini, selain hanya mengandalkan pemerintah. Selain pembuatan alur baru, tentu kedisiplinan masyarakat perlu ditingkatkan, terutama dalam hal kebersihan lingkungan serta penambahan lahan hijau terbuka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here