ReBorn Siap Laksanakan Kolaborasi Sesuai Perintah Bobby dari Saran Guru Besar USU
ReBorn Siap Laksanakan Kolaborasi Sesuai Perintah Bobby dari Saran Guru Besar USU

Kolaborasi Medan Berkah –  Komunitas Relawan Bobby Nasution selama ini telah menjadi saksi bagaimana Bobby Nasution selalu membuka diri dalam meminta nasehat dan saran dari tokoh-tokoh senior. Memang, kedekatan Bobby dengan semua lapisan masyarakat, baik warga awam maupun tokoh penting di tingkat regional dan nasional sudah tidak dapat diingkari lagi.

Calon Wali Kota Medan yang diprediksi unggul telak ini selalu mengutamakan kolaborasi dalam setiap tindakannya. Bahkan saat nantinya ia mendapatkan amanah menjadi Medan 1, ia akan menerapkan #KolaborasiMedanBerkah. Karena itulah, ia selalu ingin mendapat masukan dari tokoh yang telah memiliki jam terbang tinggi.

Baca Juga: Komunitas Relawan Bobby Nasution Giatkan Kolaborasi Pola Pikir Kaum Millennial

Untuk itu, ia mengunjungi salah satu guru besar dari Universitas Sumatera Utara, yaitu Prof. Arif Nasution. Kunjungan ini merupakan kunjungan silaturahmi sekaligus ajang diskusi Bobby dengan sang guru besar. Bobby mengunjungi kediaman guru besar USU tersebut, 9 Juli 2020. Pada kesempatan ini, ia menjelaskan rencananya dalam mewujudkan Collaboration Government. Menurutnya, pemerintahan kolaborasi adalah cara paling pas dalam kemajuan pesat Kota medan.

Memang, Bobby tidak hanya terus mencari masukan dari tokoh berpengalaman, tetapi terus menyerap ilmu-ilmu yang bermanfaat, sebagai bekalnya saat ia nanti mendapatkan amanah rakyat dalam memimpin ibukota Provinsi Sumatera Utara tersebut. Saat berbincang di rumah Prof. Arif yang terletak di Jalan Tri Dharma USU, ia tidak ragu mengungkapkan rencananya ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran Bobby sejalan dengan Prof. Arif.  Tidak berlebihan apabila Prof. Arif memberi pujian untuk inisiatif Bobby. Tidak hanya pujian, ia juga memberikan saran-saran serta beberapa tips untuk berkolaborasi dengan semua golongan rakyat. Kuncinya adalah, papar Arif, adalah pemerataan pembangunan, terutama dari tingkat terbawah. Timpangnya pembangunan berpotensi menciptakan konflik.

Saran dari Prof. Arif yang sempat maju dalam Pilkada sepuluh tahun lalu ini adalah dengan membentuk beberapa tim, beranggotakan 15 orang saja.  Satu tim, kata Arif, akan bekerja di tiga lingkungan terdekat dimana mereka berdomisili.  Ia melanjutkan bahwa setiap anggota tim perlu fokus pada masalah-masalah utama masyarakat. Dalam hal ini, masalah tersebut adalah pendidikan dan kesehatan, sekaligus terkait dengan kebersihan dari lingkungan. Setiap tim wajib berkolaborasi dengan para perangkat pemerintahan, dari tingkat RT/RW sampai lurah, kemudian camat.

“Di Medan ada sekitar 5.200 lingkungan. Andai 30 persen saja program ini berhasil dijalankan, maka kita bisa melihat perubahan di masyarakat. Kesadaran masyarakat akan tumbuh tentang pentingnya pendidikan, kesehatan dan kebersihan maupun ketertiban lingkungan,” papar Prof Arif.

“Jadi maksud kerja tim kecil itu adalah untuk mendukung program pemerintah. Kita bisa manfaatkan fasilitas yang sudah ada seperti rumah ibadah untuk pendidikan, sekolah negeri dan pemaksimalan Puskesmas,” tambahnya. “Karena selama ini memang itulah problem pemerintahan. Kalau bisa dirangkul semua sesuai yang ingin dilakukan Bobby, itulah yang the best menurut saya.”

Baca Juga: Bobby Nasution: Kolaborasi Medan Berkah Sebagai Kota Saudagar Pasti Terwujud

Upaya ini perlu melibatkan relawan. Tidak sulit karena komunitas relawan Bobby Nasution sudah ada di mana-mana. Komunitas relawan Bobby Nasution sendiri sudah sangat solid dan mendukung semua kegiatan yang diamanahkan Bobby kepada mereka.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Arif memuji Bobby. “Bobby enerjik, sopan dan tidak macam-macam. Punya akhlak yang baik,” pujinya.  Saat itu, ia dan istri, yakni dr. Intan menemui Bobby.  Dr. Intan juga berdiskusi dengan Bobby tentang penelitian yang ia susun tentang pengelolaan sampah secara tepat, dimana hal ini perlu dilakukan di ibukota provinsi Sumatera Utara ini. Ia memaparkan bahwa jurnal itu sudah melalui penelitian selama dua tahun yang dilakukan secara intensif, bekerjasama bersama akademisi Jepang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here