Tradisi Makanan Khas Ramadhan di Kota Medan
Tradisi Makanan Khas Ramadhan di Kota Medan

Kolaborasi Medan Berkah – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan kuliner nusantara yang sangat beragam. Karena sebentar lagi akan menyambut bulan puasa. Maka akan menarik jika turut mengetahui sajian lain khas bulan puasa selain kolak.

Beranjak ke pulau Sumatera, disana ada tradisi makanan khas Ramadhan di kota Medan. Bubur pedas namanya, kudapan yang satu ini selalu dibagikan sebagai tradisi lama secara turun temurun.

Tradisi Lama Makan Bubur Pedas Gratis Masyarakat Kota Medan

Tradisi lama makan bubur pedas gratis masyarakat kota Medan. Sudah berkembang lintas generasi. Menunjukkan betapa pluralitas di terima hangat di kota ini. Pasalnya bubur pedas sendiri merupakan makanan khas yang di bawa oleh masyarakat melayu. Mereka yang merantau datang membawa budaya dan tradisinya.

Bahkan setiap bulan Ramadhan Masjid Raya di Kota Medan, secara khusus membagikan cuma-cuma bubur yang terbuat dari tepung beras ini. Tidak ketinggalan pemerintah kota pun mendukung kebiasaan berbagi kudapan buka puasa tersebut.

Baca juga : Berkunjung ke Sanggar Simpassri, Bobby Nasution Apresiasi Karya Senirupawan Medan

Tidak mengherankan bila waktu buka puasa tiba, halaman Masjid Raya akan disibukkan dengan pembagian bubur. Nantinya warga kota Medan boleh makan bersama-sama ataupun di bawa pulang ke rumah.

Sejarah Pelopor Pertama Kali

Jangan membayangkan seporsi bubur dengan rasa yang membakar lidah. Dikatakan pedas lantaran di antara rempah-rempah yang dipakai. Warga Medan menggunakan lada segar yang di sangrai. Daripada pedas, lebih cocok di sebut hangat.

Kini bubur pedas bukan lagi makanan khas milik masyarakat Melayu saja. Semua orang dari suku yang beragam juga gemar menikmati semangkuk bubur sop. Dibalik populernya kudapan yang satu ini, terselip cerita menarik untuk diketahui.

Berdasarkan sejarah, Kesultanan Deli di bawah pimpinan Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah. Menjadi pelopor pertama yang memperkenalkan tradisi berbuka puasa dengan bubur pedas pertama kali diperkenalkan. Lantas warisan budaya tersebut, ikut terbawa merantau oleh masyarakatnya hingga ke kota Medan.

Mempertahankan Teknik Memasak Tradisional

Bukan tanpa alasan jika kayu bakar selalu disediakan, sebagai pelengkap kebutuhan memasak bubur pedas. Lantaran masyarakat kota Medan lebih nyaman memasak makanan khas nusantara tersebut dengan cara tradisional.

Baca juga : Bobby Nasution Ingin Kembalikan Identitas Kota Medan Lewat Sungai Deli

Biasanya masyarakat akan mulai memasak lewat tengah hari. Karena durasi memasak yang hanya membutuhkan waktu antara 3-4 jam saja. Kudapan buka puasa ini, katanya terasa lebih nikmat jika di masak menggunakan kayu bakar.

Belakangan terakhir lantaran semakin sulit mencari bumbu-bumbu rempah yang diperlukan. Maka dilakukan sedikit improvisasi rasa, sehingga cita rasa yang berkembang sekarang sudah bukan lagi resep otentik warisan Kesultanan Deli. Meski demikian bubur pedas tetap lezat untuk di nikmati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here